Sebuah Analogi Antara Superman Is Dead, Revolusi Dan Fanatisme
Baiklah, kronologinya seperti ini. Hari Jumat tanggal 31 Mei 2013 pukul 07:30 WIB saya iseng buka akun Facebook saya, saya masuk ke sebuah fanspage ini dan saya baca postingan-postingan yang, maaf, sangat memprihatinkan. Mereka anggota grup yang melabeli diri mereka dengan nama Outsider atau Lady Rose dengan sangat bangganya mengencingi nilai-nilai yang maha luhur dari seragam dengan almameter yang bernama perbedaan. Jika ada yang berbeda maka harus dimusnahkan, ada opini yang sedikit menyentil tentang SID atau Fansbase nya maka jalan keluarnya harus diselesaikan dengan cara di bully secara beramai-ramai, bahkan tidak jarang ada anggota-anggota yang lainnya mengancam dengan pernyataan superhero yang gagal orgasme dengan mengatakan "barang siapa yang tidak suka dengan SID, maka kami Outsider akan dengan senang hati membunuhnya". Saya heran, mereka ini Fansbase atau sekumpulan pasukan berani mati? Miris, ya dan itulah yang saya rasakan. Saya muak lalu saya tulis postingan di fansbase tsb dengan tujuan memberikan opini yang menentang tindakan-tindakan tsb? Dan apa yang saya dapat? Yap tepat! Saya di Bully habis-habisan, ada pihak-pihak menyamakan saya dengan anjing, babi, monyet dsb. Ada yang menyamakan orang tua saya dengan kotoran manusia, Ada pula yang ingin mengajak duel saya agar dapat jawaban siapa yang layak menyandang gelar The Next Of Hercules bahkan ada pula pihak yang ingin membunuh saya dengan pernyataan-pernyataan "Jika ada yang menghina SID bantai saja, singkirkan pemberontak klo perlu bunuh". Saya tidak keberatan jika saya harus di analogikan dengan binatang, yang saya pertanyakan justru apakah binatang-binatang tsb rela jika harus disamakan dengan saya? Saya juga tidak keberatan jika orang tua saya disamakan dengan kotoran manusia, toh pada akhirnya saya tetap percaya bahwa proses kelahiran saya dulu di atas kasur bukan secara tiba-tiba keluar dari lubang septitank. Apakah setiap opini harus berujung di atas bara api, terbakar musnah, diinjak-injak menjadi abu?
Saya mengenal SID sejak dari nol, awal perkenalan saya dengan band tsb terjadi di akhir tahun 1997 ketika Om saya pulang dari Bali dan membawa oleh-oleh berupa kaset tape SID lusuh tanpa pembungkus (tidak ada pula tulisan Sony Musik Indonesia di kaset tsb tentunya). Yap! Itu adalah kaset SID album Case 15. Dan apakah saat itu ada fansbase yang bernama Outsider? Tidak! Apakah banyak orang yang tahu siapa itu SID? Tidak! Saya juga tidak pernah tahu wajah-wajah personilnya seperti apa. Saat itu saya membayangkan dan beranggapan, mungkin personil-personil SID adalah spesies-spesies yang diusir dari planet Crypton karena menunggak bayar kontrakan, lalu turun ke Bumi dan membuat side project berupa sebuah band dengan tujuan mengumpulkan dana untuk melunasi pembayaran kontrakan di planet asalnya. Karena saat itu informasi tentang semesta dan tetek-bengek nya tidak seluas LCD di Smartphone kalian. Barulah di pertengahan September tahun 2002 saya berkesempatan bertatapan muka secara langsung dengan mereka di acara Puma Street Games (Senayan). Dan wow! Ternyata anggapan saya salah, ketika mereka di atas panggung mereka memakai pakaian lengkap bukan hanya celana dalam saja. Kulit mereka berwarna sawo matang bukan biru, dan tidak ada satupun dari personil mereka yang punya sayap. Setelah acara itu, barulah kemesraan-kemesraan kita (baca:saya dan SID) berangsur tumbuh, mekar, berbunga dan aroma aprodite tetap mewangi hingga sekarang.
Baiklah kembali lagi ke topik, saya hanya menyampaikan opini saya tentang pola pikir para Outsider, maaf, jika boleh saya menyebutnya dengan istilah Outsider karbitan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka memvonis saya adalah bagian dari mereka-mereka yang membenci SID. Sick! Pertanyaan saya adalah, apakah Fansbase SID adalah manifestasi nyata dari SID itu sendiri? Tentu bukan kan? Jadi jika saya memberikan opini miring tentang Fansbase nya, apakah berarti saya membenci band nya? Dari vonis-vonis para Outsider karbitan tsb yang nihil substansi, akhirnya timbulah premis-premis skeptis dari diri saya. Saya beranggapan bahwa realitas hanyalah akumulasi atas ilusi subjektivitas yang maha-terbatas, dan karenanya tidak pernah utuh. Tersusun dari kumpulan yang serba-separuh. Apalah yang lebih menyiksa ketimbang subjektivitas yang liar tak terkendali terhadap opini-opini prematur yang mereka yakini? Apakah mereka (baca:Outsider karbitan) hanyalah barisan fragmen imajiner, figmen temporer, pun imaji arbitrer?
Salah satu Hak Asasi Manusia yang paling fundamental adalah hak untuk berpikir dengan bebas. Setiap manusia boleh memiliki varian opini, baik pro maupun kontra untuk menghasilkan kesimpulan yang objektif dan berimbang pada akhirnya. Lantas apa yang terjadi jika seandainya kebebasan berpikir diintervensi dengan sanksi? Masihkah layak disebut ‘asasi’? Ketika individu dilatih dan ditempa untuk bersikap skeptis dan kritis terhadap segala sesuatunya, sementara suara lirih mereka untuk menyuarakan aspirasi dibungkam semena-mena demi kepentingan salah satu pihak semata. Bukankah SID yang para Outsider karbitan agung-agungkan itu selalu menyuarakan tantang kebebasan, kesetaraan dan Hak Asasi Manusia? Disini terjadi paradoks yang jungkir balik.
Saya sadar, bahwa SID melalui lirik-lirik di lagu mereka menentang keras
sikap fanatisme sempit terhadap sesuatu yang kita banggakan. Ironi
adalah ketika SID menggunakan peluru untuk menembak sikap-sikap
fanatisme sempit itu justru malah diarahkan ke fansbase mereka sendiri.
Peluru yang seharusnya bisa digunakan untuk mereka-mereka yang berada di
luar lingkaran SID justru dirampok oleh mereka-mereka yang berada di
dalam lingkaran tsb. Cih! Hal-hal yang mungkin remeh inilah yang
kemudian menggiring saya dan teman-teman diluar sana, termasuk mungkin
anda yang membaca tulisan ini untuk tidak menempatkan diri kita pada
embel-embel fansbase Outsider/Lady Rose. Karena mungkin konklusi dari
personality adalah embrio yang menolak untuk menjadi robot imaji dalam
komunitas yang lagi-lagi nihil substansi. Bicara tantang SID maka kita
bicara tentang musik. Bagi
saya, eksistensi musik di jagat raya jauh melampaui kemunculan manusia
maupun makhluk hidup lainnya. Difusi antar dimensi, suara, dan nuansa
adalah bahan dasar pembentuk musik yang natural. Yang alami. Manusia
hanya memanifestasikan keahliannya untuk merekonstruksi dan
mengkreasikan suara-suara tadi menjadi sesuatu yang dapat mereka
nikmati. Juga sesuatu yang dekat dengan mereka secara personal. Antara
musik dan manusia, keduanya saling berkelin dan bersimbiosa dalam
harmoni. Inilah yang membuat saya super muak dengan spesies-spesies yang
sembunyi atas nama fansbase dan menggap diri mereka maha sejati dalam
mencintai band pujaan nya tapi justru secara terang-terangan mengencingi
nilai-nilai luhur dari apa yang disuarakan oleh band pujaan nya. Saran
saya, jika kalian ingin mengkonsumsi komedi satir tak perlu harus
repot-repot menonton para dagelan di televisi. Cukup dengan mengingat
pernyataan Jrx yang menyatakan "Konsep kebebasan yang fanatik adalah
ketika kebebasan itu malah
menekan/merampas hak hidup orang lain." lalu analogikan pernyataan tsb
dengan polah,pola pikir dan tingkah para Outsider karbitan tsb.
Sekali lagi, saya tidak membenci SID. Hingga semesta kehilangan nilai ke-semestaan-nya, romantika saya dengan SID akan tetap terjaga ASRI. Saya mencintai misteri, oleh sebab itu saya tidak follow salah satu akun Twitter personil SID yang saya idolakan agar dia tetap menjadi misteri di hidup saya. Yang saya benci adalah sikap-sikap fanatik sempit dari kalian semua yang memakai tameng Outsider/Lady Rose dan men-tuhan-kan pola pikir picik hasil cuci otak sinetron. Saya muak dengan kalian yang mengkonsumsi secara rakus sebuah lakon tanpa filterisasi protagonis-antagonis layaknya produk-produk dari restoran siap saji, dan mewarisi wabah eskatologi dengan otak yang terkontaminasi doktrin robot supremasi difusi ereksi.
Sekali lagi, saya tidak membenci SID. Hingga semesta kehilangan nilai ke-semestaan-nya, romantika saya dengan SID akan tetap terjaga ASRI. Saya mencintai misteri, oleh sebab itu saya tidak follow salah satu akun Twitter personil SID yang saya idolakan agar dia tetap menjadi misteri di hidup saya. Yang saya benci adalah sikap-sikap fanatik sempit dari kalian semua yang memakai tameng Outsider/Lady Rose dan men-tuhan-kan pola pikir picik hasil cuci otak sinetron. Saya muak dengan kalian yang mengkonsumsi secara rakus sebuah lakon tanpa filterisasi protagonis-antagonis layaknya produk-produk dari restoran siap saji, dan mewarisi wabah eskatologi dengan otak yang terkontaminasi doktrin robot supremasi difusi ereksi.
"Perang, perdamaian, kehancuran, kedigjayaan. Apa penyebab semua itu? Jika dirangkum, semua esensi nya bermuara di Cinta." JRXYap! Kecintaan kalian yang melebihi batas, kecintaan kalian yang buta makna dan kecintaan kalian yang berujung dengan sikap fanatik, akan menjadikan kalian semua sebagai metafora tentatif di tiap nafas revolusi yang SID suarakan. Selamat malam.