Rabu, 05 Juni 2013

apa aja lah ini

Sebuah Analogi Antara Superman Is Dead, Revolusi Dan Fanatisme

Selamat malam. Tulisan saya kali ini saya tulis bukan untuk mendiskreditkan pihak manapun atau organisasi, fansbase sebutlah yang lainnya. Tulisan ini tercipta atas keprihatinan saya terhadap pola pikir masyarakat kita, khusus nya pola pikir mereka-mereka yang mengatasnamakan Outsider-Lady Rose (nama fansbase dari Superman Is Dead). Kenapa saya ambil contoh Outsider-Lady Rose? Jawabannya karena tulisan ini berangkat dari sana.

Baiklah, kronologinya seperti ini. Hari Jumat tanggal 31 Mei 2013 pukul 07:30 WIB saya iseng buka akun Facebook saya, saya masuk ke sebuah fanspage ini dan saya baca postingan-postingan yang, maaf, sangat memprihatinkan. Mereka anggota grup yang melabeli diri mereka dengan nama Outsider atau Lady Rose dengan sangat bangganya mengencingi nilai-nilai yang maha luhur dari seragam dengan almameter yang bernama perbedaan. Jika ada yang berbeda maka harus dimusnahkan, ada opini yang sedikit menyentil tentang SID atau Fansbase nya maka jalan keluarnya harus diselesaikan dengan cara di bully secara beramai-ramai, bahkan tidak jarang ada anggota-anggota yang lainnya mengancam dengan pernyataan superhero yang gagal orgasme dengan mengatakan "barang siapa yang tidak suka dengan SID, maka kami Outsider akan dengan senang hati membunuhnya". Saya heran, mereka ini Fansbase atau sekumpulan pasukan berani mati? Miris, ya dan itulah yang saya rasakan. Saya muak lalu saya tulis postingan di fansbase tsb dengan tujuan memberikan opini yang menentang tindakan-tindakan tsb? Dan apa yang saya dapat? Yap tepat! Saya di Bully habis-habisan, ada pihak-pihak menyamakan saya dengan anjing, babi, monyet dsb. Ada yang menyamakan orang tua saya dengan kotoran manusia, Ada pula yang ingin mengajak duel saya agar dapat jawaban siapa yang layak menyandang gelar The Next Of Hercules bahkan ada pula pihak yang ingin membunuh saya dengan pernyataan-pernyataan "Jika ada yang menghina SID bantai saja, singkirkan pemberontak klo perlu bunuh". Saya tidak keberatan jika saya harus di analogikan dengan binatang, yang saya pertanyakan justru apakah binatang-binatang tsb rela jika harus disamakan dengan saya? Saya juga tidak keberatan jika orang tua saya disamakan dengan kotoran manusia, toh pada akhirnya saya tetap percaya bahwa proses kelahiran saya dulu di atas kasur bukan secara tiba-tiba keluar dari lubang septitank. Apakah setiap opini harus berujung di atas bara api, terbakar musnah, diinjak-injak menjadi abu?

Saya mengenal SID sejak dari nol, awal perkenalan saya dengan band tsb terjadi di akhir tahun 1997 ketika Om saya pulang dari Bali dan membawa oleh-oleh berupa kaset tape SID lusuh tanpa pembungkus (tidak ada pula tulisan Sony Musik Indonesia di kaset tsb tentunya). Yap! Itu adalah kaset SID album Case 15. Dan apakah saat itu ada fansbase yang bernama Outsider? Tidak! Apakah banyak orang yang tahu siapa itu SID? Tidak! Saya juga tidak pernah tahu wajah-wajah personilnya seperti apa. Saat itu saya membayangkan dan beranggapan, mungkin personil-personil SID adalah spesies-spesies yang diusir dari planet Crypton karena menunggak bayar kontrakan, lalu turun ke Bumi dan membuat side project berupa sebuah band dengan tujuan mengumpulkan dana untuk melunasi pembayaran kontrakan di planet asalnya. Karena saat itu informasi tentang semesta dan tetek-bengek nya tidak seluas LCD di Smartphone kalian. Barulah di pertengahan September tahun 2002 saya berkesempatan bertatapan muka secara langsung dengan mereka di acara Puma Street Games (Senayan). Dan wow! Ternyata anggapan saya salah, ketika mereka di atas panggung mereka memakai pakaian lengkap bukan hanya celana dalam saja. Kulit mereka berwarna sawo matang bukan biru, dan tidak ada satupun dari personil mereka yang punya sayap. Setelah acara itu, barulah kemesraan-kemesraan kita (baca:saya dan SID) berangsur tumbuh, mekar, berbunga dan aroma aprodite tetap mewangi hingga sekarang.

Baiklah kembali lagi ke topik, saya hanya menyampaikan opini saya tentang pola pikir para Outsider, maaf, jika boleh saya menyebutnya dengan istilah Outsider karbitan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka memvonis saya adalah bagian dari mereka-mereka yang membenci SID. Sick! Pertanyaan saya adalah, apakah Fansbase SID adalah manifestasi nyata dari SID itu sendiri? Tentu bukan kan? Jadi jika saya memberikan opini miring tentang Fansbase nya, apakah berarti saya membenci band nya? Dari vonis-vonis  para Outsider karbitan tsb yang nihil substansi, akhirnya timbulah premis-premis skeptis dari diri saya. Saya beranggapan bahwa realitas hanyalah akumulasi atas ilusi subjektivitas yang maha-terbatas, dan karenanya tidak pernah utuh. Tersusun dari kumpulan yang serba-separuh. Apalah yang lebih menyiksa ketimbang subjektivitas yang liar tak terkendali terhadap opini-opini prematur yang mereka yakini? Apakah mereka (baca:Outsider karbitan) hanyalah barisan fragmen imajiner, figmen temporer, pun imaji arbitrer?


Salah satu Hak Asasi Manusia yang paling fundamental adalah hak untuk berpikir dengan bebas. Setiap manusia boleh memiliki varian opini, baik pro maupun kontra untuk menghasilkan kesimpulan yang objektif dan berimbang pada akhirnya. Lantas apa yang terjadi jika seandainya kebebasan berpikir diintervensi dengan sanksi? Masihkah layak disebut ‘asasi’? Ketika individu dilatih dan ditempa untuk bersikap skeptis dan kritis terhadap segala sesuatunya, sementara suara lirih mereka untuk menyuarakan aspirasi dibungkam semena-mena demi kepentingan salah satu pihak semata. Bukankah SID yang para Outsider karbitan agung-agungkan itu selalu menyuarakan tantang kebebasan, kesetaraan dan Hak Asasi Manusia? Disini terjadi paradoks yang jungkir balik.
Saya sadar, bahwa SID melalui lirik-lirik di lagu mereka menentang keras sikap fanatisme sempit terhadap sesuatu yang kita banggakan. Ironi adalah ketika SID menggunakan peluru untuk menembak sikap-sikap fanatisme sempit itu justru malah diarahkan ke fansbase mereka sendiri. Peluru yang seharusnya bisa digunakan untuk mereka-mereka yang berada di luar lingkaran SID justru dirampok oleh mereka-mereka yang berada di dalam lingkaran tsb. Cih! Hal-hal yang mungkin remeh inilah yang kemudian menggiring saya dan teman-teman diluar sana, termasuk mungkin anda yang membaca tulisan ini untuk tidak menempatkan diri kita pada embel-embel fansbase Outsider/Lady Rose. Karena mungkin konklusi dari personality adalah embrio yang menolak untuk menjadi robot imaji dalam komunitas yang lagi-lagi nihil substansi. Bicara tantang SID maka kita bicara tentang musik. Bagi saya, eksistensi musik di jagat raya jauh melampaui kemunculan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Difusi antar dimensi, suara, dan nuansa adalah bahan dasar pembentuk musik yang natural. Yang alami. Manusia hanya memanifestasikan keahliannya untuk merekonstruksi dan mengkreasikan suara-suara tadi menjadi sesuatu yang dapat mereka nikmati. Juga sesuatu yang dekat dengan mereka secara personal. Antara musik dan manusia, keduanya saling berkelin dan bersimbiosa dalam harmoni. Inilah yang membuat saya super muak dengan spesies-spesies yang sembunyi atas nama fansbase dan menggap diri mereka maha sejati dalam mencintai band pujaan nya tapi justru secara terang-terangan mengencingi nilai-nilai luhur dari apa yang disuarakan oleh band pujaan nya. Saran saya, jika kalian ingin mengkonsumsi komedi satir tak perlu harus repot-repot menonton para dagelan di televisi. Cukup dengan mengingat pernyataan Jrx yang menyatakan "Konsep kebebasan yang fanatik adalah ketika kebebasan itu malah menekan/merampas hak hidup orang lain." lalu analogikan pernyataan tsb dengan polah,pola pikir dan tingkah para Outsider karbitan tsb.

Sekali lagi, saya tidak membenci SID. Hingga semesta kehilangan nilai ke-semestaan-nya, romantika saya dengan SID akan tetap terjaga ASRI. Saya mencintai misteri, oleh sebab itu saya tidak follow salah satu akun Twitter personil SID yang saya idolakan agar dia tetap menjadi misteri di hidup saya. Yang saya benci adalah sikap-sikap fanatik sempit dari kalian semua yang memakai tameng Outsider/Lady Rose dan men-tuhan-kan pola pikir picik hasil cuci otak sinetron. Saya muak dengan kalian yang mengkonsumsi secara rakus sebuah lakon tanpa filterisasi protagonis-antagonis layaknya produk-produk dari restoran siap saji, dan mewarisi wabah eskatologi dengan otak yang terkontaminasi doktrin robot supremasi difusi ereksi.
"Perang, perdamaian, kehancuran, kedigjayaan. Apa penyebab semua itu? Jika dirangkum, semua esensi nya bermuara di Cinta." JRX
Yap! Kecintaan kalian yang melebihi batas, kecintaan kalian yang buta makna dan kecintaan kalian yang berujung dengan sikap fanatik, akan menjadikan kalian semua sebagai metafora tentatif di tiap nafas revolusi yang SID suarakan. Selamat malam.

Rabu, 29 Mei 2013

anti virus terbaik

5 Antivirus Gratis Terbaik 2013 - antivirus merupakan software yang wajib di instal di komputer/ laptop agan, ok mungkin agan sudah tahu akan hal tersebut ma'af jika garing, nah sekarang hal yang perlu agan ketahui adalah free antivirus terbaik di tahun 2013, mungkin agan pengguna AVG, Avast, Avira, Smadav atau yang lain nya, ingat ya antivirus gratis no crack no fake serial etc.

Ok berikut 5 Antivirus Gratis Terbaik 2013 hasil saya search

5. Microsoft Security Essentials 
Unggul dalam bidangnya membuat Microsoft tampil terdepan untuk sebuah antivirus yang tersemat di operasi sistem Windows 7 besutannya. Melindungi PC sepanjang waktu dari serangan virus, spyware, dan program merugikan lainnya. Microsoft security essentials ini tentu saja gratis anda gunakan. Kabarnya antivirus dari Microsoft muncul kekhawatiran dari antivirus lainnya sebab keunggulan yang ditawarkan sudah menyamai versi Premium dan sangat mudah digunakan.


antivirus gratis - microsoft security esentials

4. Avira Free antivirus 2013
Salah satu program ampuh yang juga diminati di pasar software antivirus sebab sangat bagus kinerjanya dalam mendeteksi serangan virus, spywarem dan rootkit threat. Juga ampu mendeteksi berbagai malware yang mengganggu. Sayangnya, versi gratisan ini tidak bisa otomatis melacak datangya email yang masuk yang dikhawatirkan disusupi oleh virus jahat. Sehingga anda harus melakukan proses pemindaian secara konvensional.

antivirus gratis - avira

3. Ad-Aware Free Antivirus
Lebih ramping, lebih kejam, lebih cepat. Antivirus+ gratis Ad-Aware menggabungkan kami Anti-spyware legendaris dengan Antivirus yang super cepat dan gratis. Itu sekarang fitur download perlindungan (blok file jahat sebelum sedang ditulis ke disk), sandboxing (membuat tidak diketahui aplikasi berjalan dalam lingkungan virtual) dan advanced pendeteksian - antivirus gratis yang paling kuat kita belum.


antivirus gratis - ad-aware free antivirus

2. AVG AntiVirus Free 2013
Siapa yang tidak kenal dengan AVG, sudah malang melintang di dunia program antivirus berbagai penghargaan di sabetnya. Kenyang akan pengalaman sebagai musuh virus, layak dijadikan perhatian utama kita kali ini sebagai antivirus top dan ampuh melindungi komputer pribadi. Meski gratis layanannya tidak kalah juga dengan versi premium lainnya anda juga bisa mengupgradenya menjadi premium dengan mudah sekali jika anda mau. AVG sangat praktis dan mudah digunakan proses installnya juga hanya butuh beberapa menit saja.

antivirus gratis - AVG Antivirus 2013

1. avast
Avast antivirus ini tersedia dalam 2 versi gratisan dan berbayar. Hadir sangat lengkap melindungi komputer dari serangan virus dan sebangsanya. Mesin satu ini dilengkapi pula senjata melawan spyware, firewall, mengidentifikasi website yang terkandung virus, dan antispam sebagai perlindungan ganda komputer anda. Sangat muda digunakan dan aman untuk semua sistem komputer.

antivirus gratis - avast

Sudah tahu kan urutan 5 Antivirus Gratis Terbaik 2013, sekarang di no urut berapakah antibiotics antivirus agan atau sista ? silahkan di jawab melalui kolom komentar di bawah ini. 

Terimaksih semoga info ini berguna bagi anda.

Selasa, 28 Mei 2013

Biografi THE GAZETTE

BIOGRAFI

Gazette bermula pada awal tahun 2002, terdiri dari lima angota yang kesemuanya laki-laki, meski masih muda, mereka sudah cukup berpengalaman di dunia musik. Tiga dari personelnya telah bekerjasama di band-band lama (Ma’die Kusse dan Kar+te=zyAnose); dimana vokalisnya adalah Ruki, salah satu gitarisnya Uruha dan bassisnya Reita. Dua mantan member dari Artia melengkapi formasi awal ini; Aoi pada Gitar dan Yune pada drum. Setelah resmi bergabung di label Matina, mereka merilis single pertama, Wakaremichi, dan sebuah video dalam bentuk VHS pada bulan April, melalui berbagai acara dan perilisan omnibus dengan segera mengangkat nama mereka. Band ini pun sukses menggelar oneman pertama pada bulan Oktober di tahun itu. Pada akhir tahun mereka ikut ambil bagian di acara "FINAL PRELUDE 2002~2003 Matina PRESENTS" karena label Matina ini akan bubar.

Pada tahun 2003, Yune menggumumkan akan meninggalkan Gazette. Dia dengan segera digantikan oleh Kai (ex Mareydi†Creia) dan band ini lalu bergabung dengan label PS Company. Mereka ambil bagian di tur pertama bersama dengan rekannya dari band indie Hanamuke, dan merilis mini album pertama Cockyane Soup selanjutnya diikuti dengan perilisan dua mini album lainnya dua bulan sesudahnya. Pada sisa tahun, mereka melanjutkan dengan mengadakan tur Beauti-Fool's Fest 2003 bersama dengan artis lainnya seperti Merry dan D'espairsRay.

Gazette menggebrak tahun 2004 dengan mengadakan oneman di Shibuya AX (konser ini kemudian dirilis dalam bentuk DVD) dan saat itu juga mereka membuka fan club secara resmi. Mendekati akhir tahun, band ini merilis DVD live kedua dan kemudian mereka memberikan fans mereka apa yang telah dinantikan lebih dari dua tahun, yaitu album perdana mereka Disorder. Di bulan Desember, mereka ikut berpartisipasi di Beauti-Fool's Fest dan menggelar sebuah tur kecil.

Tahun 2005, Gazette nampaknya mengerahkan seluruh waktu mereka di bis tur atau di panggung karena hampir tiada hentinya mereka menggelar tur ke seluruh negeri. Beberapa item dirilis di antaranya tur dan photobook pertamanya "Verwelktes Gedicht", yang dijual di bulan September. Akhirnya mereka beristirahat singkat hingga bulan Desember yang dilanjutkan dengan keikutsertaannya pada acara "PEACE & SMILE CARNIVAL TOUR 2005" dengan memakai nama label dan merilis single Cassis yang menjadi single terakhir yang dirilis dibawah nama Gazette.

Tahun 2006 merupakan tahun yang sangat sibuk untuk Gazette. Mereka mengganti nama dari ‘Gazette’ yang ditulis dalam huruf Jepang, menjadi The GazettE, ditulis dalam bahasa Inggris, band ini menggebrak tahun itu dengan merilis sebuah album baru Nil. Mereka dengan segera melakukan tur besar-besaran, menjangkau seluruh Jepang dengan lebih dari tiga puluh pertunjukkan. Tur finalnya diadakan di Nippon Budokan, salah satu tempat penyelenggaraan terbesar di Jepang, dan habis terjual. Mereka juga mengadakan pertunjukkan Eropa pertamanya di Jerman pada akhir Juli, untuk menyenangkan fans internasional mereka. Kemudian masih di tahun itu, mereka membuka homepage resmi versi bahasa inggris pada bulan Oktober.

Mereka mengakhiri 2006 dan mengisi tahun 2007 dengan jadwal tur dan single-single baru sebelum mengumumkan perilisan album baru STACKED RUBBISH pada musim panas, dan penyelenggaran dua buah tur. Tur pertama akan dimulai pada awal Juni, yang diadakan dari musim panas hingga gugur, dan tur keduanya akan menutup bulan musim dingin. Untuk menyenangkan para fans internasional mereka, The GazettE memutuskan untuk kembali ke Eropa dengan mengadakan sebuah rangkaian tur kecil yang akan diadakan di Jerman, Perancis, Finlandia, dan Inggris pada bulan Oktober.